Malang, 10 Januari 2012
Hari ini aku ada jadwal UAS mata kuliah Pengantar Bisnis pukul 11:00. Aku tiba di kampus jam10:00 agar bisa baca-baca buku dulu sebelum masuk kelas. Pagi itu aku belum sarapan, hanya makan tiga bungkus roti gopekan karena memang kalau pagi males makan. Jam 12:00 keluar kelas dengan perasaan lega karena UAS hari ini lancar.
Aku turun ke lantai satu dengan lift bersama Sigit, Efan dan Desy karena tadi kita satu ruangan dan memang ruangannya di lantai lima. Aku memutuskan ke lantai dua dulu untuk melihat-lihat informasi di pengunguman, tapi mereka tetap lanjut ke lantai satu. Tadi Desy bilang mau cari makan, jadi rencananya setelah lihat pengunguman aku langsung nyusul karena aku juga belum makan tadi. Kita memang biasa ke kantin bareng sambil geje-gejean di kantin. Seusai melihat pengunguman aku langsung ke lantai satu lewat tangga. Di lantai satu ternyata Desy tidak ada. Akhirnya kuputuskan untuk ke belakang kampus cari makan sendiri.
Tepat di samping gerbang belakang kampus kulihat ibu-ibu penjual cilok dengan pakaian serba tertutup sedang membaca Mushaf kecil di sisi gerobaknya. Ibu penjual cilok ini yang biasa menyapaku setiap aku lewat belakang kampus. Kemudian kupikir-pikir daripada g lapar-lapar amat mending beli cilok saja, makannya nanti agak sorean saja. Dan aku untuk pertama kalinya aku membeli cilok di ibu ini, tigaribusaja(ngirit juga. hehe). Ibu itu dengan cekatan membungkus dan membumbui cilok di plastik transparan kecil.
"Ditali Mas?"
"Iya Bu, ditali aja."
Ibu itu langsung mengikat ujung plastik dan menaruh bungkusan tadi di atas meja gerobak. Aku mengambil uang dari saku, tiga ribu, dan memberikannya ke ibu itu. Tapi ibu itu tidak mau mengambil uang di tanganku. Aku kebingungan. Apa digratiskan begitu saja? (berharap. hahaa..)
"Ditaruh di situ saja Mas." dengan senyum manis Ibu itu menunjung ke meja gerobak.
"Oh, iya Bu." dengan membalas senyum kuletakkan uangku di atas meja gerobak dan mengambil bungkusan cilok yang tadi.
"Mari Bu." dengan senyum kembali aku berjalan kembali ke kampus.
"Iya Mas, mari." balas Ibu tadi dengan membalas senyum.
Sebagian orang akan tersinggung ketika membayar uang yang dia berikan tidak langsung diterima, tapi disuruh meletakkan di atas meja gerobak. Seperti saat ingin berjabat tangan tapi tidak disambut dengan jabatan tangan. Tapi tidaj denganku. Aku tau orang-orang seperti Ibu tadi hanya tidak ingin bersentuhan kulit dengan orang yang bukan mahromnya. Justru aku kagum pada orang-orang seperti ini.
Itu tadi sedikit pengalamanku dengan ibu penjual cilok. Semoga dapat menjadi inspirasi buat teman-teman pembaca untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sampai jumpa di posting selanjutnya. Tetap semangat untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.. :)
by: Kicky Prasetiawan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar